Archive for November, 2006

Haraam Food Aditives

Monday, November 27th, 2006

Suatu hari dapat sms dari seorang teman, kalimat pertamanya sama seperti judul tulisan ini "
Haraam Food Aditives" wah apa nih? ternyata isinya kode-kode bahan (ingredients) makanan yang suka tercantum di kemasan makanan.Sumber validnya saya sendiri kurang tau, tapi saya pikir ada baiknya di muat dalam blog ini,

siapa tau ada yang lebih mengerti dan memahami mau memberikan komentar dan informasi tambahan. Dan menurut saya pribadi, bersikap hati-hati dalam memilih makanan yang akan masuk ke dalam pencernaan kita, apalagi makanan kemasan adalah sikap yang bijak untuk menghindari termakan bahan makanan yang di haramkan.kalau yang selama ini saya lakukan adalah fokus kepada satu komposisi yang saya ketahui haram atau syubhat (meragukan) yaitu LESITIN (LECITINE), kalau makanan mengandung bahan makanan ini maka lebih baik diganti sama yang lain saja. Karena sepanjang pengetahuan saya (pernah baca di sebuah artikel majalah islami) bahwa bahan pembuat lesitin itu bisa dari tumbuhan (lesitin soya) dan juga bisa berasal dari hewan, bisa sapi atau babi.
Tapi lesitin yang sekarang beredar kebanyakan berasal dari babi. sehingga kalau
tulisannya cuma lesitin, berarti dia lesitin yang dari hewan, lebih baik tidak dipilih. sedangkan yang tertulisnya lesitin soya, berarti dari tumbuhan (kacang kedelai) bah, kalo yang satu ini insya Allah halal.
Berikut isi sms yang saya terima :
Haraam Food Aditives :
E120,
E140,
E141,
E252,
E422,
E430,
E431,
E440,
E470,
E471,
E472(a,b,c,d)
E473,
E475,
E477,
E478,
E482,
E483,
E492,
E494,
476,
542,
570,
572,
631,
635,
901,
Oxytearin,
Pepsin Glycerol,
Glycine,
Gelatine,
Stabilizer,
Stearic Acid,
Lard Magnesium Stearate,
Rennet (Cheese),
Shortening (animal),
Example : "E" (Emulsifier)

Proud For being Indonesian … ? (*)

Monday, November 27th, 2006

Tulisan di bawah ini pernah saya kirimkan ke rubrik KOKI Kompas, dan dimuat pada tanggal 25 Agustus 2006

   

Bangga Menjadi Orang Indonesia

   
Anda orang Indonesia?
   
Masih tinggal di Indonesia?
   
Di Jakarta?
    Ke kantor naik bis- umpel-umpelan?
   
Lalu lintas macet?
   
Pernah Naik kereta super ekonomi ke Yogya or Surabaya ?
   
Pernah kebajiran?
   
Pernah dipalakin di bus sama gerombolan preman?

   
Kalau semua jawaban di atas = "Ya",
maka saya hanya Cuma bisa berkomentar :
    "Kaciaannn deh elo…"
   
Hi… hi.. hi… maaf-maaf, saya hanya bercanda, jangan di ambil hati.
   
Bukannya congkak.. bukannya sombong.. atau kagetan karena baru 2.5 tahun terakhir tinggal di Bangkok dan Singapore, terus seenak udelnya sendiri ngeledek saudara-saudara yang masih di tanah air.

   
Sebaliknya , dalam tulisan ini, saya ingin menghibur saudara-saudara yang jawaban atas pertanyaan-pertanya an diatas = ya atau 80% ya.
Jika demikian halnya, maka nasib Anda sebenernya tidak jauh beda dengan nasib saya. Cuma sedikit perbedaannya yaitu, bagi saya : itu nasib saya dulu, sementara bagi Anda: yah… itu nasib anda sekarang (lagi : kaciaannn deh elo… hi.. hi..hi.. ketawa jahil).

   

Ok, sekarang saya serius. Kalau Ada yang bertanya: apa sih yang bisa dibanggakan for being Indonesian?
Maka jawaban saya adalah :
Kita harus bangga karena kita orang Indonesia Bisa dan Biasa hidup susah!!!
   
Becanda lagi nih?
    Nggak, saya Serius!! Saya nggak boong. Kalau saya boong biarkan Tuhan memberikan cobaan yang berat pada saya (red : kata pak ustadz harta yang berlimpah merupakan cobaan yang berat)

   

Kemampuan untuk hidup susah (saya sebut aja "survival ability" ya) tidak dimiliki orang-orang yang lama hidup di negara-negara mapan.
    Boss saya (orang India) pernah cerita: suatu ketika teman-nya-sebut saja Sarukh- dan keluarganya pamit pada boss saya pulang ke negara asalnya,India yang murah meriah untuk menikmati pensiun dini, setelah 15 tahun kerja di Singapore . Eee… belum satu tahun pamitan, pulang ke India, si Sarukh sudah balik lagi ke Singapore, dan kali ini minta bantuan Boss saya untuk dicariin kerjaan lagi di Singapore.

   

What happened? Tanya boss saya. Sarukh bercerita, setelah pulang ke India, anak remajanya yang dibesarkan di Singapore menjadi rada-rada stress dan menjadi pasien tetap psikiater di sana. Selidik-punya selidik agaknya hal itu disebabkan karena anaknya Sarukh tidak bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan dari kondisi yang sangat mapan (Singapore) ke kondisi yang sebaliknya (India).
   
Jadi, dalam hal ini, anak si Sarukh yang sudah biasa hidup dalam kemapanan tidak punya "kemampuan bertahan waras" untuk hidup di negara yang belum mapan. Demi kebaikan anaknya, akhirnya si Sarukh memutuskan menunda pensiun dini-nya dan kembali kerja di Singapore.

   

Kalau kita-kita yang sudah biasa hidup susah di Jakarta, pindah or berkunjung ke India sih nggak ada masalah.
Saya jadi ingat, 2 tahun lalu ketika saya dan rekan-rekan kerja saya berkunjung ke India, boss saya wanti-wanti untuk : bawa obat sakit perut, dan selama di India hanya minum-minuman dari botol/kaleng. Kalau ke restoran lokal jangan sekali-kali minum air putih yang disediakan dari dari teko/ceret di restoran tersbut, karena kebersihan airnya tidak terjamin, dan biasanya perut orang asing tidak siap untuk itu; begitu nasehat boss saya.
   

Pada waktu itu satu rombongan yang berangkat ke India terdiri dari 5 orang. Satu orang Jepang –dari Jepang, dua orang Singapore dan dua orang Indonesia (termasuk saya baru sebulan kerja di Singapore).
    Dalam 2 minggu kunjungan ke India, kolega dari Singapore dan Jepang langsung menderita diare di Minggu pertama ke India.
Diselidiki, kemungkinan penyebabnyat adalah mereka pernah memesan kopi atau teh di restoran lokal pada saat makan siang (yang tentunya tidak dari botol). Sementara si orang Jepang, walaupun secara ketat dia hanya minum-minuman botol atau kaleng selama makan di restoran-restoran lokal, terkena diare, diduga karena si orang jepang ini menggunakan air keran dari hotel untuk berkumur-kumur selama sikat gigi.
Sedangkan saya dan satu orang rekan lagi dari Indonesia, sehat walafiat tidak menderita suatu apapun selama di sana (mungkin karena di Indoneisa, sudah terbiasa jajan es dipinggir jalan yang airnya tidak lebih bersih dari air di restoran-restoran India).

   
What is the moral of the story?
    Kita harus bangga karena Kita bisa lebih baik dari orang Jepang dan Singapore!!! ! (at least, dalam hal ketahanan perut).

   

Cerita lainnya lagi, bulan lalu saya di kirim kantor (yang base-nya di Singapore) untuk mengikuti sebuah workshop di Rio de Janeiro Brazil. Total waktu trempuh saya dari Singapore ke hotel saya di Rio de Janeiro Brazil adalah 36 jam (termasuk 5 jam transit di Eropa).
Sebenarnya, dari Singapore ke Brazil, jalur yang paling umum dan cepat adalah ke arah Timur, transit di Amerika, terus ke Brazil. Dengan jalur ini saya perkirakan, dalam 26-30 jam saya sudah bisa mencapai Brazil. Cuma, karena saya orang Indonesia, untuk transit di Amerika pun saya butuh apply VISA Amerika, yang mana proses aplikasi visa tersebut memerlukan waktu sedikitnya 2 minggu. Padahal, saya tidak punya waktu sebanyak itu.
Alhasil, yah begitulah, saya harus memilih rute yang sebaliknya, mengeliling belahan bumi bagian barat, transit di Amsterdam, dengan waktu tempuhnya 6- 10 jam lebih lama.
Jadinya, cukup melelahkan, tapi nggak apa-apa, namanya juga orang Indonesia, harus terbiasa dengan hal-hal yang susah-susah.
   
Saya sampai di hotel di Rio, hari minggu jam 11 Malam. Dan keesokan paginya saya langsung mengikuti workshop di sana. Walaupun masih terasa lelah, saya tetap berusaha untuk terlibat aktif dalam workshop pagi itu, dengan mengajukan pertanyaan atau memberi masukan atas pertanyaan peserta lainnya. Pada saat istirahat, saya sempat berbincang-bincang dengan kolega-kolega dari Jerman peserta workshop itu. Beberapa dari mereka mengeluh kecapaian dan menderita "jet lag", karena mereka telah menempuh 12 jam perjalanan dari Jerman, dan baru saja tiba di Brazil hari minggu siang, sehingga belum cukup waktu istirahat untuk adaptasi Jet lag, begitu keluh mereka. Lalu, saya berkata pada mereka, bahwa sebenarnya mereka lebih beruntung dari saya, karena saya harus menempuh 36 jam perjalanan dari Singapore, dan baru tiba di hotel pukul sebelas malem, kurang dari 12 jam sebelum workshop dimulai.
Mereka tertegun, salah seorang dari mereka bertanya pada saya:

    "Tapi kamu naik pesawat, di kelas Bisnis khan?"
    "Tidak, jatah saya Cuma kelas ekonomi", jawab saya lagi.
    Mereka terlihat semakin terkagum-kagum (atau kasihan?), dan salah seorang dari mereka memuji.
    "Its very impressive, you guys Singaporean are really-really hard workers"
    "I’m not Singaporean, I’m Indonesian working in Singapore" jawab saya dengan bangga.

   

Agaknya, hari itu saya menjadi cukup terkenal di kalangan kolega dari Jerman, hanya karena terbang selama 36 jam dari Singapore, baru tiba kurang dari 12 jam sebelumnya dan masih bisa secara aktif mengikuti workshop tersebut. Saya tahu kalau saya menjadi pembicaraan mereka , karena sewaktu makan malam, kolega dari jerman lainnya - yang saya tidak pernah ceritakan mengenai perjalanan saya dari Singapore – bertanya pada saya tips and trick supaya bisa tetap segar setelah menempuh perjalanan begitu lama (ini berarti dia mendapatkan cerita saya dari kolega jerman lainnya).
Saya bingung jawabnya. Ingin sekali saya menjawab :

    "Berlatihlah dengan naik kereta api super ekonomi dari Jakarta ke Surabaya di saat-saat mendekati hari lebaran. Kalau Anda terbiasa dengan alat transportasi ini- di mana tidak hanya species "Homo Sapiens" yang bisa menjadi penumpangnya , dan di tambah lagi waktu tempuhnya yang lama sekali karena hampir di setiap setasion harus berhenti, maka Anda akan bisa menaklukkan semua alat transportasi terbang apapun yang ada di muka bumi ini".
    Namun, saya urungkan memberi jawaban di atas, karena saya khawatir dia tidak akan mengerti atas apa yang saya jelaskan, dan saya yakin mereka tidak bisa "survive" dengan alat transportasi ini, yang fasilitasnya tentu jauh dari kelas bisnis pesawat terbang (Note : kolega saya dari jerman, otomatis mendapat fasilitas kelas bisnis di pesawat apabila waktu tempuhnya lebih dari 10 jam).

   

Seminggu, setelah saya pulang dari Workshop di Brazil, ntah karena terkagum-kagum dengan "kemampuan hidup susah" (dari sudut pandang mereka) yang saya miliki, atau karena alasan lainnya, kolega saya dari Jerman yang saya temui di Brazil, menghubungi atasan saya yang intinya meminta saya untuk ditugaskan ke Jerman, membantu project yang saat ini sedang berjalan di sana. Alhasil, bulan September – November saya akan bergabung dengan kolega-kolega di Jerman menyelesaikan project di sana.
    Cukup membanggakan, karena, kata boss saya, ini kali pertama "Kantor Pusat" meminta bantuan dari kantor cabang untuk mensupport project yang sedang mereka kerjakan di kantor pusat.

   

Jadi, setelah membaca tulisan ini, saya harap pembaca sekalian punya alasan semakin bangga menjadi orang Indonesia.
Kalau anda lagi di luar negeri dan ditanya "Anda dari mana?"
Jawablah dengan bangga:
   
Ya, Saya dari Indonesia,
   
Negara yang lagi susah,
   
Saya juga hidupnya susah
   
Tapi saya bisa "survive",
   
Dan saya bangga karenanya!!!
Any Problem???

   

Mahendra Hariyanto (Alumnus S1 TI STT Telkom angkatan ‘93)
Singapore, 24 Agustus 2006.
   
Selamat merayakan HUT kemerdekaan. MERDEKA!!!

Hati-hati dengan Teh Celup, BERBAHAYA!

Sunday, November 26th, 2006

Buat yang pernah berkunjung ke pabrik kertas/pulp, mungkin tahu bahwa chlorine ini adalah senyawa kimia yang sangat jahat dengan lingkungan dan manusia, khususnya dapat menyerang syaraf dsb!
Dari kejauhan pabrik mudah dilihat jika ada asap  erwarna kuning yang mengepul dari pabrik, 

itu bukan asap biasa tapi chlorine gas. 

Makanya industri ini mendapat serangan hebat dari LSM 

lingkungan karena hal di atas disamping juga masalah 

kehutanan. Kertas terbuat dari bubur pulp yang berwarna 

coklat tua kehitaman.
Agar serat berwarna putih, 

diperlukan sejenis bahan pengelantang (sejenis 

rinso/baycline) senyawa chlorine yang kekuatan sangat 

keras sekali! 

Kertas sama dengan kain, karena memiliki serat. Kalau anda 

mo uji bener apa tidaknya, silahkan coba nanti malam bawa 

tissue ke Studio East, lihatlah tissue akan mengeluarkan 

cahaya saat kena sinar ultraviolet dari lampu disco! 

Berarti masih mengandung chlorine tinggi. 

Kalau di negara maju, produk ini harus melakukan proses 

Neutralization dgn biaya cukup mahal agar terbebas dari 

chlorine dan dapet label kesehatan. 

Tissue atau kertas makanan dari negera maju yang dapet 

label Depkesnya tidak bakalan mengeluarkan cahaya tsb saat 

kena UV. Kertas rokok samimawon, bahkan ada calsium 

carbonat agar daya bakarnya sama dengan tembakau dan akan 

terurai jadi CO saat dibakar. Di Indonesia tidak ada yang 

kontrol, jadi harap berhati-hati. 

Pls protect your families! 

Minumlah Teh, Bukan Klorin… 


Saran: 

Kembali minum teh tubruk ala kampung lagi..! Pake 

saputangan ‘merah jambu’ lagi biar mesra! Merokok dengan 

daun atau cangklong lagi! (tapi kalo pendapat saya pribadi sih, lebih baik tinggalin aja kebiasaan merokoknya ^_^ == siska’s opinion==)
Back to 60’s 

style….he. ..he…he

Minumlah Teh, Bukan Klorin…
Anda 

gemar minum teh? Dan, sebagai manusia modern Anda tentu 

suka segala sesuatu yang praktis, kan? Nah, Anda tentu 

sering minum teh menggunakan teh celup. Selain karena suka 

rasa teh, mungkin Anda minum teh karena yakin akan 

berbagai khasiat teh. Misalnya, teh merah untuk relaksasi, 

teh hitam untuk pencernaan, atau teh hijau untuk 

melangsingkan tubuh.
Namun, apa Anda terbiasa mencelupkan 

kantong teh celup berlama-lama? 

Mungkin, pikir Anda, semakin lama kantong teh dicelupkan 

dalam air panas, makin banyak khasiat teh tertinggal dalam 

minuman teh…
Padahal, yang terjadi justru sama sekali 

berbeda! Kandungan zat klorin di kantong kertas teh celup 

akan larut. Apalagi jika Anda mencelupkan kantong teh 

lebih dari 3 - 5 menit. 

Klorin atau chlorine, zat kimia yang lazim digunakan dalam 

industri kertas. Fungsinya, disinfektan kertas, hingga 

kertas bebas dari bakteri pembusuk dan tahan lama. Selain 

itu, kertas dengan klorin memang tampak lebih bersih. 

Karena disinfektan, klorin dalam jumlah besar tentu 

berbahaya. Tak jauh beda dari racun serangga.

Banyak 

penelitian mencurigai kaitan antara asupan klorin dalam 

tubuh manusia dengan kemandulan pada pria, bayi lahir 

cacat, mental terbelakang, dan kanker. 

Nah, mulai sekarang, jangan biarkan teh celup Anda 

tercelup lebih dari 5 menit. Atau, kembali ke cara yang 

sedikit repot, gunakan daun teh.

Awan Terhapus Hujan

Wednesday, November 22nd, 2006

Bila kesedihan bagai awan yang kelabu,
maka ia akan hilang seusai turunnya hujan.
bila duka bagai kabut yang tebal,
maka ia akan hilang bersama angin yang berhembus.

dengan demikian, tiada guna menyimpan sedih dan duka sepenuh jiwa
jika semua itu akan segera menjadi masa lalu….

Kosong …. (?)

Wednesday, November 22nd, 2006

Hidup bagaikan lembaran buku,
kadang halamannya penuh warna, sarat kata,
tapi terkadang juga ada halaman kosong, tak berwarna, tak ada kata…

Tapi hidup juga bagaikan secangkir kopi,
bila diminum oleh penggemar kopi, ia terasa hangat dan manis,
tapi jika diminum oleh yang tak suka kopi, maka yang terasa hanyalah pahit dan sepet.

yang jelas, yang ku tahu,
seseorang mestinya berusaha untuk menjadikan hidupnya penuh warna dan kata2 indah
seseorang mestinya menjadikan hari-harinya hangat dan manis,
seseorang mestinya segera bangkit ketika dia terjatuh,
seseorang mestinya melihat segala sisi kehidupannya dengan kacamata yang jernih
agar dapat menjalani kehidupannya dengan penuh hikmah…

* catatan hati yg sedang kehilangan satu warna

Pidato Bush…???

Thursday, November 16th, 2006

Berikut bocoran pidato Bush sewaktu briefing di White House sebelum berkunjung ke Indonesia nanti.

PIDATO BUSH

Ehm ehm…

Kepada yang terhormat Direktur CIA, FBI, Direktur Bank Dunia, ADB, IMF, CEO Haliburton, Exxon Mobil, Freeport , Bankir2 Internasional, Dan semua yang telah membantu kami membiayai perang Iraq , Afghanistan , serta menyebarluaskan kekuasaan Imperium global, Direktur media dan televisi CNN, ABC, NBC, yang telah membantu propaganda kita, kami ucapkan terima kasih.

Hari ini adalah hari yang sangat penting karena pada hari ini saya akan melaporkan keadaan Indonesia , yang dulu kita takuti itu, sekarang sama sekali tak berdaya di hadapan kita.

Kita tidak perlu takut kepada angkatan bersenjata mereka, karena senjata yang mereka gunakan adalah kiriman dari negeri kita, lihatlah ketika kita jatuhkan embargo senjata, tentara-tentara mereka seperti maung ompong
ha ha ha ha (hadirin tertawa),
yang lebih lucu lagi kemarin presidennya sendiri yang memelas pada kita untuk menghentikan embargo itu…
ha haha. (hadirin tertawa).. kasihan-kasihan.

Tak perlu takut pada generasi mudanya, rupanya faham materialisme, budaya konsumtif, hedonisme, individualisme, yang kita ajarkan itu lewat iklan-iklan kita, tayangan-tayangan televisi kita, film-film kita, propaganda-propagan da kita, sudah tertanam pada hati dan pikiran sebagian besar dari mereka, jangankan memikirkan negeri atau umatnya lebih-lebih agamanya, kini mereka hanya memikirkan kesenangan diri mereka sendiri, bayangkan saja Negara semiskin itu penduduknya menempati urutan tertinggi dalam korupsi and dalam urusan berbelanja baju ke Singapura, mengalahkan Jepang , Australia , dan China sekalipun.
ha ha ha (hadirin tertawa ).

Tak perlu takut tentang pelajar-pelajarnya, karena mahasiswa-mahasiswa terbaiknya selalu kita rekrut dan kita pekerjakan di perusahaan-perusaha an minyak atau tambang kita, dan kita menyuap mereka dengan gaji yang besarnya sama dengan loper koran di negeri kita
ha ha  ha. (hadirin tertawa ).
Bayangkan, orang-orang terbaiknya hadirin.

Tak perlu takut kepada pemimpin politik dan pejabatnya, karena sebagian besar dari mereka adalah orang yang gila jabatan dan sangat mudah untuk disuap, untuk uang dan jabatan, mereka bisa kita minta untuk melakukan apa saja sesuai keinginan kita.
Dasar mental koruptor!
ha ha ha ha (hadirin tertawa ).

Hutang mereka sudah sangat besar dan hampir mustahil bisa mereka bayar, 22% APBN mereka habis untuk membayar hutang kepada kita, sehingga mengurangi anggaran pendidikan mereka,kesehatan mereka, dan pelayanan sosial mereka. Sehingga di negeri itu banyak penduduknya yang kelaparan, miskin, sakit dan tak mampu berobat, ini merupakan keuntungan bagi kita. Karena semakin lama jika kondisi tidak berubah, maka akan tercipta generasi yang lemah dari negeri itu. Yang tidak akan mampu melawan kita, seperti yang selama ini kita harapkan.

Kekayaan negeri mereka hampir semuanya kita kuasai, lebih dari 96 % ladang minyak mereka telah kita miliki, tambang batu-bara, tembaga, emas, yang beroperasi di negeri itu hampir semuanya adalah milik kita. Lebih dari itu mimuman-minuman, makanan-makanan, buku-buku, walau banyak yang ngopi, komputer-komputer, software-soffware mereka, walau banyak yang ngebajak, bahkan odol dan sabun yang mereka gunakan adalah produksi perusahaan2 kita. 
ha ha ha (hadirin tertawa),

…. Indonesia merupakan ladang dollar kita yang harus tetap kita pertahankan bagaimanapun caranya, 200 juta lebih penduduk negeri itu merupakan konsumen bagi produk-produk perusahaan kita.

Singkat kata Indonesia telah kalah dari kita baik dari segi ekonomi, militer, politik, budaya, teknologi, dan lain-lain dan lain-lain

Untuk menjaga agar kondisi ini tetap berlangsung, maka saya sarankan agar lebih mengefektifkan promosi budaya konsumtif dan hedonisme kepada mereka, kepada agen-agen CIA agar memecah belah , tebarkan kecurigaan dan fitnah di antara mereka, biar mereka terus berkelahi dan tidak punya waktu untuk melawan Imperialisme kita, terus rekrut generasi muda terbaiknya agar bekerja untuk perusahaan-perusahaan kita, sehingga tidak akan banyak gerakan yang menentang kita.

Sebelum mengakhiri pidato ini, saya ucapkan terima kasih atas kerja sama yang luar biasa ini, kepada seluruh pihak yang telah ikut serta membantu usaha kita, perusahaan-perusahaan Multinasional, Televisi dan Media masa, Bank Dunia, IMF, CGI, Negara-Negara Sekutu, Economic Hit Man, Mafia Berkeley, yang terhormat pejabat korup Indonesia . Dan lain-lain, dan lain-lain.

Sekian dan terima kasih.

President USA
George Walker Bush
White House

*Note : mungkin ini hanya sekedar intermezzo, tapi sangat patut untuk kita renungkan terkait dengan kenyataan yang ada disekitar kita sekarang ini, kurang lebih pidato diatas sangat menohok bukan?
jadi, ayo kita sebagai generasi muda Tanah Air, BANGKIT!!! kita perbaiki kebobrokan negara kita dengan dimulai dari diri kita sendiri, jadilah generasi muda pembaharu yang hanya takut kepada Allah SWT, berwawasan luas, berpikir untuk masa depan, mempunyai rencana yang matang dan langkah yang jelas serta mencintai Tanah Air Indonesia.
BANGKIT !!! MAJU !!! PULIHKAN NEGRI INI !!!

** Sumber : Dari sebuah milis