Puisi-puisi Istri………

January 26th, 2007 by siska-jamaani

Aku suka puisi, tp tergantung puisinya seperti apa, salah satu puisi yang kusuka adalah tulisan bunda Neno, realistis dan menyentuh. Berikut salah satu puisi beliau yang kubaca dari buku Ijinkan Aku Bertutur……

Puisi-Puisi Istri

Heran juga,
Benar-benar peran suami
Pada kebahagiaan istri
Kalau suami benar-benar sayangnya,
Istri jadi terarah sepak terjangnya tanpa diminta
Namun jika para suami tak pandai menghargai
Hati istri jadi sumbu candradimuka
Marahnya merambat kemana-mana
Tidak diungkapkan sekalipu n tampak pada penyakitnya
Duuuh, mahalnya para suami
Ia mengambil istri-istri dengan nama Ilahi Rabbi
Jika tidak berhasil menjadi lelaki yang paling baik pada ahlinya
Aku kira lebih baik kita wanita jadi janda saja
Daripada hati terus dibikin sengsara
Sudahlah pula membantu mencari nafkah,
Perlakuan baik sekedar kata sayang dan perhatian tak diterima
Jadi,
Apa sih yang bikin para suami enggan menghargai istri?
Oh, sering juga lantaran kita sendiri, ya
Para istri senang mengacaukan hati
Taruh cemburu tak pada tempatnya
Minta belanja kasar omongnya
Dan suka merasa berjasa
Serta tak pandai urus anaknya
Ah, masakan lantaran itu saja para suami batal sayangnya?
Jangan-jangan karena juga tabiat dasar para suami
Tak dididik untuk memahami sisi-sisi wanita sang istri
Ya itulah, para suami terlalu pakai otak kiri, tak ada empati tak ada
imajinasi….

sedang para istri sering terlalu mengandalkan perasaan
itu bagiannya otak kanan, kan….

Berpanjang-panjang dalam dugaan, sampai keterlaluan
Padahal itu pekerjaan setan bukan?
Maka benarlah kata guruku antara suami dan istri harus sepakat dulu
2 hadits pegangan silakan dipertukarkan, niscaya terjadi pencerahan
Ar Rijaalu qawwammuna ala nissa jangan lagi jadi andalan lelaki
Al Jannatu tahta aqdamil ummahat jangan jadi jimat para istri shalihah
Mari coba dipikir, mari coba

12 AZAB BAGI MEREKA YANG MENINGGALKAN SHALAT

January 26th, 2007 by siska-jamaani

Dalam sebuah hadis menerangkan bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda : "Barangsiapa yang mengabaikan shalat berjama’ah maka Allah S.W.T akan menimpakan 12 tindakan yang mengerikan ke atasnya.

Tiga darinya akan dirasakan semasa di dunia ini antaranya :-

  • Allah S.W.T akan menghilangkan berkat dari usahanya dan begitu juga terhadap rezekinya.
  • Allah S.W.T mencabut nur orang-orang mukmin daripadanya.
  • Dia akan dibenci oleh orang-orang yang beriman.

Tiga macam bahaya adalah ketika dia hendak mati, antaranya :

  • Ruh dicabut ketika dia di dalam keadaan yang sangat haus walaupun ia telah meminum seluruh air laut.
  • Dia akan merasa yang amat pedih ketika ruh dicabut keluar.
  • Dia akan dirisaukan akan hilang imannya.

Tiga macam bahaya yang akan dihadapinya ketika berada di dalam kubur, antaranya :

  • Dia akan merasa susah terhadap pertanyaan malaikat mungkar dan nakir yang sangat mengerikan.
  • Kuburnya akan menjadi cukup gelap.
  • Kuburnya akan menghimpit sehingga semua tulang rusuknya berkumpul (seperti jari bertemu jari).

Tiga lagi azab nanti di hari kiamat, antaranya :

  • Hisab ke atsanya menjadi sangat berat.
  • Allah S.W.T sangat murka kepadanya.
  • Allah S.W.T akan menyiksanya dengan api neraka.

Naudzubillahi min dzalik!!!
semoga kita semua termasuk orang-orang yang berhati-hati dan menjaga setiap amal baik.

Saat Bingung Memilih Pasangan

January 23rd, 2007 by siska-jamaani

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki
  maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih
  yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal
  dalam Islam yang namanya ‘kufu’ ( layak dan serasi ),
  dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk
  putrinya seseorang yang sekufu, meski makna kufu
  paling umum dikalangan para ulama adalah seagama.

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga
  merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan
  demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK
  LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. Disisi lain bahwa memilih
  pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai
  sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang
  wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan
  representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan
  kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih suami
  atau istri. Aisyah Ra berkata, "Pernikahan hakikatnya
  adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat
  dimanakah kehormatannya akan diletakkan"

Rasulullah pun bersabda, "Barang siapa yang
  menjodohkan kehormatannya dengan orang yang fasik maka
  dia telah memutus rahimnya" (HR Ibnu Hibban). Nabi
  juga pernah memberikan pertimbangan kepada seorang
  sahabiyah yang datang kepadanya seraya minta
  pertimbangan atas dua orang yang akan melamarnya, lalu
  Nabi menjawab, "Adapun Muawiyah bin Abi sufyan dia
  sangat ringan tangan (alias gampang memukul), adapun
  yang lainnya adalah orang yang fakir tidak memiliki
  harta yang banyak." Lalu Nabi menikahkannya dengan
  Zaid bin Haritsah.

Dan untuk memantapkan pilihan, terutama dari berbagai
  alternatif sebaiknya melakukan shalat istikhorah baik
  di tengah malam maupun di awalnya, dan lakukan secara
  berkali-kali. Jika telah dilakukan berkali-kali maka
  KEMANTAPAN YANG ADA ITULAH YANG INSYA ALLAH MERUPAKAN
  PETUNJUK-NYA, DAN ITULAH YANG LEBIH DIIKUTI. Tetapi
  perlu diingat, bahwa informasi yang dominan pada diri
  seseorang sering yang lebih berpengaruh terhadap
  istikhorah, oleh karena itu perlu dilakukan
  berkali-kali. Dan untuk membedakan apakah itu
  keputusan yang dominan adalah selera semata atau
  dominasi istikharah agak sulit, kecuali dengan
  berkali-kali, sekalipun salah satu tanda bahwa itu
  adalah petunjuk dari Allah adalah dimudahkannya urusan
  tersebut, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya
  alamat yang mutlak.

Juga apabila persoalan apakah diri kita jual mahal
  atau tidak tergantung pada niat dan representasinya,
  karena itu Rasulullah menegaskan, "Sesungguhnya segala
  pekerjaan membutuhkan niat dan pekerjaan seseorang
  sangat dipengaruhi oleh niat. Barang siapa yang
  niatnya kepada Allah maka dia (dalam representasinya)
  akan sesuai dengan Allah dan Rasulnya, dan barang
  siapa yang niatnya kepada dunia atau wanita maka
  (representasinya) akan sesuai apa yang diniatkan"
  (Muttafaq alaih).

Untuk menghindarkan tuduhan itu maka buktikan dalam
  representasi kita sehari-hari, sebagai contoh bahwa
  tuduhan itu akan benar jika memang salah satu
  kebiasaan kita adalah chatting dengan teman-teman baru
  yang notabenenya lebih banyak para laki-laki untuk
  seorang perempuan, dan sebaliknya, berbeda misalnya
  kalau teman yang kita ajak chatting adalah para wanita
  atau dalam bahasa yang digunakan bersifat umum, tidak
  ada yang rahasia sehingga tidak khawatir kalau harus
  dibaca orang. Ini hanya sekelumit contoh yang
  barangkali kurang tepat untuk yang bingung memilih
  pasangannya. Tapi ada hal yang cukup penting untuk
  diketahui bahwa UNTUK MENGENAL SESEORANG TENTU TIDAK
  CUKUP DENGAN BERKOMUNIKASI SESAAT.

Pernah suatu hari Sahabat Umar bin al-Khattab
  mendengar seseorang memuji orang lain hingga Umar agak
  merasa keheranan lalu Umar bertanya, "Apakah kamu
  pernah bepergian dengannya?" Jawab orang tadi,
  "Belum." "Apakah kamu pernah bertransaksi dengannya?"
  Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah
  bertetangga dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum."
  "Apakah kamu pernah melihatnya dia melakukan shalat?"
  Jawab orang tersebut, "Ya, aku melihat dia rajin
  shalat, menunaikannya sesuai dengan waktunya." Lalu
  kata Umar, "Kalau begitu anda belum kenal dengan baik
  orang tersebut." Tetapi untuk mengenali tiga poin
  pertama dari empat poin tersebut bisa dilakukan dengan
  cara MENANYAKAN ORANG YANG PALING DEKAT DENGANNYA, DAN
  YANG DAPAT DIPERCAYA.

Adapun bila kita dihadapkan suatu pilihan lebih dari
  satu, tentu sewajarnya seorang akan memilih yang
  terbaik baginya, meskipun PILIHAN TERBAIK BAGINYA
  TIDAK SELALU IDENTIK DENGAN PILIHAN YANG TERBAIK BAGI
  UMUM, KARENA SESEORANG TENTU MEMILIKI PERTIMBANGAN
  YANG SANGAT KHUSUS YANG TIDAK DIMILIKI ORANG LAIN.

Dari uraian diatas, kebingungan untuk memilih pasangan hidup
  dapat diatasi dengan beberapa tips berikut ini,

  1. pilihlah karena agamanya,
  2. kenali dengan cara menanyakan kepada orang yang paling dekat dengannya dan
        dapat kita percaya,
  3. letakkan niat pada tempat yang benar, karena segala perbuatan membutuhkan
        dan sangat dipengaruhi niat,
  4. sholat istikhorah untuk mohon petunjuk kepada Allah juga patut dilakukan,
     
  5. apabila semua ini telah dilakukan, maka pasrahkan diri kepada Allah SWT
        akan keputusan-Nya, jangan keluh kesah, karena itu tidak akan pernah menyelesaikan
        masalah,
  6. dan terakhir, jangan bosan untuk berbekal ilmu pernikahan :), karena berbekal
        ilmu adalah lebih baik daripada tidak membekali diri pada saat masuk ke dunia
        yang baru.

Masalah jodoh hanya Allah yang tahu, siapa pasangan
  kita sebenarnya, itulah rahasia Allah. Kita hanya
  diminta untuk berusaha, dan Allah-lah penentunya,
  terkadang Dia menentukan pilihan-Nya itu diluar dugaan
  dan rasio kita sebagai seorang manusia, tapi itulah
  ketentuan Allah. Jika memang harus menerima kenyataan
  di luar kehendak kita, maka ingatlah untuk tidak
  sembarangan memberikan cinta kepada siapapun, karena
  kadar cinta kita kepada Allah harus lebih tinggi dari
  itu semua. Yang terbaik menurut Allah, itulah yang
  paling utama.

Selamat berjuang akhi, selamat berjuang ukhti…,
  mulailah dengan bismillah dan niat yang benar, insya
  Allah, ridho-Nya akan selalu menghampiri, dan semoga
  Allah selalu memudahkan urusan antum.

Wallahu alam bi showab,

=====

taken from dudung.net

Author: Abu Aufa
  Maraji’: Konsultasi Ustadz Bukhori Yusuf, Lc, MA dan Ustadz M. Ihsan Tandjung,
  Lc

Pengirim : FERRY HADARY OHKAWA
  Laboratory Department of Control Engineering and Science
  Faculty of Computer Science and Systems Engineering
  Kyushu Institute of Technology-Japan

Bagaimana Otak Kita Membaca?

January 22nd, 2007 by siska-jamaani

Aoccdrnig to a rscheearch at an Elingsh uinervtisy, it deosn’t mttaer in waht oredr the ltteers in a wrod are, the olny iprmoetnt tihng is taht frist and lsat ltteer is at the rghit pclae. The rset can be a toatl mses and you can sitll raed it wouthit porbelm. Tihs is bcuseae we do not raed ervey lteter by itslef but the wrod as a wlohe.

can you read the passage above? i’m sure you can read it easily. ^_^

AKU sebaiknya SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN

January 21st, 2007 by siska-jamaani

AKU TAK SELALU MENDAPATKAN APA YANG KUSUKAI, OLEH KARENA ITU AKU SELALU MENYUKAI APAPUN YANG AKU DAPATKAN.

Kutipan cerita dibawah ini,insya Allah memberikan makna, bahwa kita mestinya harus bersyukur pada "apa yang telah kita dapatkan".
=====================
Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, "Lulu, Lulu." Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini.
Si dokter menjawab, "Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu."
Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, "Lulu, Lulu". "Orang ini juga punya masalah dengan Lulu? tanyanya keheranan.
Dokter kemudian menjawab, "Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu."
=====================

Kata-kata diatas merupakan wujud syukur.
SYUKUR MERUPAKAN KUALITAS HATI YANG TERPENTING.
Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan
selalu merasa kurang dan tak bahagia. Ada 2 hal yang sering membuat kita tak bersyukur.

1. KITA SERING MEMFOKUSKAN DIRI PADA APA YANG KITA INGINKAN, BUKAN PADA  APA YANG KITA MILIKI.
Katakanlah anda telah memiliki sebuah rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik. Tapi anda masih merasa kurang. Pikiran anda dipenuhi berbagai target dan keinginan. Anda begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita hanya menikmati kesenangan sesaat. Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi "KAYA" dalam arti yang sesungguhnya.

Mari kita luruskan pengertian kita mengenai orang "kaya". ORANG YANG "KAYA" BUKANLAH ORANG YANG MEMILIKI BANYAK HAL, TETAPI ORANG YANG DAPAT
MENIKMATI APAPUN YANG MEREKA MILIKI. Tentunya boleh-boleh saja kita memiliki keinginan, tapi kita perlu menyadari bahwa inilah akar perasaan tak tenteram. Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Cobalah lihat keadaan di sekeliling Anda, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Anda akan merasakan nikmatnya hidup. Pusatkanlah perhatian Anda pada sifat-sifat baik atasan, pasangan, dan orang-orang di sekitar Anda. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.
Seorang pengarang pernah mengatakan, "MENIKAHLAH DENGAN ORANG YANG ANDA
CINTAI, SETELAH ITU CINTAILAH ORANG YANG ANDA NIKAHI." Ini perwujudan rasa
syukur. Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

2. KECENDERUNGAN MEMBANDING-BANDINGKAN DIRI KITA DENGAN ORANG LAIN.
Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai,lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya dari kita.
Saya ingat, pertama kali bekerja saya senantiasa membandingkan penghasilan saya dengan rekan-rekan semasa kuliah. Perasaan ini membuat saya resah dan gelisah. Sebagai mantan mahasiswa teladan di kampus, saya merasa gelisah setiap mengetahui ada kawan satu angkatan yang memperoleh penghasilan di atas saya. Nyatanya, selalu saja ada kawan yang penghasilannya melebihi saya.
Saya menjadi gemar bergonta-ganti pekerjaan, hanya untuk mengimbangi rekan-rekan saya.

Saya bahkan tak peduli dengan jenis pekerjaannya, yang penting gajinya lebih besar. Sampai akhirnya saya sadar bahwa hal ini tak akan pernah ada habisnya. Saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya dapatkan. Kini saya sangat menikmati pekerjaan saya.
RUMPUT TETANGGA MEMANG SERING KELIHATAN LEBIH HIJAU DARI RUMPUT DI
PEKARANGAN SENDIRI. HIDUP AKAN LEBIH BAHAGIA KALAU KITA DAPAT MENIKMATI APA YANG KITA MILIKI. KARENA ITU BERSYUKUR MERUPAKAN KUALITAS HATI YANG TERTINGGI.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, "Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga."

.: Ditemukan diantara arsip-arsip lama yang terselip dan nyaris terlupakan, sumber asli unknown :.

Paling…

January 9th, 2007 by siska-jamaani

Apa yang lebih dekat pada diri kita kecuali KEMATIAN ?
apa yang lebih  jauh dari kita kecuali MASA LALU ?
apa yang lebih berat di dunia ini kecuali AMANAH?
dan apa yang lebih tajam kecuali UCAPAN ?

Subhanallah…

December 20th, 2006 by siska-jamaani

Semua yang kita inginkan belumlah tentu baik untuk kita,

oleh karenanya, bersyukurlah atas apa yang telah kita peroleh…

langkahku terhenti di perjalanan….[again]

but it’s ok, nothing gonna change my spirit,

i’ll always optimist and keep struggling !!!

and of course i’ll fix my strategy and strengthen my effort…!!!

just remember "Allah know the best for you, sis"

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

December 19th, 2006 by siska-jamaani

"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk
kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh
Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur
Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah,
yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor
dipersilahkan…"

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi
pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.
Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf
jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.
Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah
menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa.
Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi  yang tegas.
Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu…
Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu’ala Rasulillah, amma
ba’du.
Sebelumnya saya mohon ma’af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya
para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali
ini perkenankan saya bercerita…
Cerita
yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan
cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.
Tiga puluh tahun yang lalu …
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke
atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat
di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan
sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.
Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!
Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut
dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.
Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu
mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.
Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali
saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar
lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.
"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas
ayah. Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat
materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.
Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.
Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta
ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus. Saya buka keinginan saya untuk
melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.
Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas
yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!
Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.
Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur….tukang cukur, ya… sekali
lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak
mengecap bangku pendidikan.
Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina,
bergonta-ganti pacar dan akhirnya
menghamili pacarnya yang entah yang
ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar?
Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari
strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar
adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri.
"Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.
Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup
saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.
Saya
bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya.
Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan
harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala
quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui
penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah-mentah untuk mengawinkan
putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.
Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan
ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.
Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya
kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?
Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini.
Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku.
Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk melaksanakan
akad nikah kami secara syari’ah mengikuti mahzab imam Hanafi.
Ketika Ma’dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya
terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang
kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."
Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.
Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara
kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.
Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound,tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!
Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di
jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih
sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.
"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti
ini.Maafkan Kanda!"
"Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan
kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita.
Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita
berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.
Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata
derita kita
saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan. Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di
emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam
kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin
kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan
sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.
Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak
50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang
murah. Saat kami berteduh
dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan
kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus
mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan
perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT. Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah.
Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya
adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang
kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika
seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai
mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang
membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan
dan uang administrasi lainnya. Jadi
sewanya tak lebih dari 25 pound saja
untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami
pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari
sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan
satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu
saja… tak lebih.
Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap
bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan
melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia
adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia
merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.
Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya
persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk
memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga.
Jika
percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an
dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak
memperoleh segala cinta di surga.
Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.
Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia
bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.
Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan
kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita
hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya."
Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa
kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter.
Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang
kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil
sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan
mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.
Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor
dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak segala
perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka patah-patahkan, begitu
juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar.
Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena
berani menentang Tuan Pasha."
Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala
itu pangkatnya naik
menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami berdua
berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan.
Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas
yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang
sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan.
Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur
kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman
inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini.
Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di
telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.
Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan
niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.
Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta
beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku.
Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun
marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan
segala sesuatu lebih matang.
Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu
tahun penuh saya menjalani wajib
militer. Inilah masa yang saya takutkan,
tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap
bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai.
Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan
isteri tercinta.
Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia
mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah
kami.
Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah
SWT.
Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu
kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan.
Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia
tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi
seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan
pendamping setia & lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana… di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku… besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari
nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia
ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!
"Gila… ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak…ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan.
Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:
"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran
dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar
sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan.
Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk
sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan
kita wujudkan mimpi indah kita."

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun
luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan
kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki
hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara
kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku,
dll. Nyaris kami
hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang
kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.
Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam
suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati
dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk
beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya… kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu,
terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan. Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia
kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup
mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan
yang kumuh dan makan ala kadarnya.
Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya. Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua.
Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini. "Allah
menyertai orang-orang yang sabar, sayang…" bisiknya mesra sambil tersenyum.
Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara. Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.
Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal
hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan
kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke
Mesir
setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia kembali
mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor
Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui,
dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di
London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya
kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di
negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana
tambahan."

Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar
Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis
jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja
baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat
sebagai
direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar
di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai
dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan
duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya
menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan
permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup
bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup
menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah
swt dan bertambahlan rasa cinta kami.
Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin
sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya
dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan
pertama sampai saat
ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang
menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda
Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan
bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz…"

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok
perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan
itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda
Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan
segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

Haraam Food Aditives

November 27th, 2006 by siska-jamaani

Suatu hari dapat sms dari seorang teman, kalimat pertamanya sama seperti judul tulisan ini "
Haraam Food Aditives" wah apa nih? ternyata isinya kode-kode bahan (ingredients) makanan yang suka tercantum di kemasan makanan.Sumber validnya saya sendiri kurang tau, tapi saya pikir ada baiknya di muat dalam blog ini,

siapa tau ada yang lebih mengerti dan memahami mau memberikan komentar dan informasi tambahan. Dan menurut saya pribadi, bersikap hati-hati dalam memilih makanan yang akan masuk ke dalam pencernaan kita, apalagi makanan kemasan adalah sikap yang bijak untuk menghindari termakan bahan makanan yang di haramkan.kalau yang selama ini saya lakukan adalah fokus kepada satu komposisi yang saya ketahui haram atau syubhat (meragukan) yaitu LESITIN (LECITINE), kalau makanan mengandung bahan makanan ini maka lebih baik diganti sama yang lain saja. Karena sepanjang pengetahuan saya (pernah baca di sebuah artikel majalah islami) bahwa bahan pembuat lesitin itu bisa dari tumbuhan (lesitin soya) dan juga bisa berasal dari hewan, bisa sapi atau babi.
Tapi lesitin yang sekarang beredar kebanyakan berasal dari babi. sehingga kalau
tulisannya cuma lesitin, berarti dia lesitin yang dari hewan, lebih baik tidak dipilih. sedangkan yang tertulisnya lesitin soya, berarti dari tumbuhan (kacang kedelai) bah, kalo yang satu ini insya Allah halal.
Berikut isi sms yang saya terima :
Haraam Food Aditives :
E120,
E140,
E141,
E252,
E422,
E430,
E431,
E440,
E470,
E471,
E472(a,b,c,d)
E473,
E475,
E477,
E478,
E482,
E483,
E492,
E494,
476,
542,
570,
572,
631,
635,
901,
Oxytearin,
Pepsin Glycerol,
Glycine,
Gelatine,
Stabilizer,
Stearic Acid,
Lard Magnesium Stearate,
Rennet (Cheese),
Shortening (animal),
Example : "E" (Emulsifier)

Proud For being Indonesian … ? (*)

November 27th, 2006 by siska-jamaani

Tulisan di bawah ini pernah saya kirimkan ke rubrik KOKI Kompas, dan dimuat pada tanggal 25 Agustus 2006

   

Bangga Menjadi Orang Indonesia

   
Anda orang Indonesia?
   
Masih tinggal di Indonesia?
   
Di Jakarta?
    Ke kantor naik bis- umpel-umpelan?
   
Lalu lintas macet?
   
Pernah Naik kereta super ekonomi ke Yogya or Surabaya ?
   
Pernah kebajiran?
   
Pernah dipalakin di bus sama gerombolan preman?

   
Kalau semua jawaban di atas = "Ya",
maka saya hanya Cuma bisa berkomentar :
    "Kaciaannn deh elo…"
   
Hi… hi.. hi… maaf-maaf, saya hanya bercanda, jangan di ambil hati.
   
Bukannya congkak.. bukannya sombong.. atau kagetan karena baru 2.5 tahun terakhir tinggal di Bangkok dan Singapore, terus seenak udelnya sendiri ngeledek saudara-saudara yang masih di tanah air.

   
Sebaliknya , dalam tulisan ini, saya ingin menghibur saudara-saudara yang jawaban atas pertanyaan-pertanya an diatas = ya atau 80% ya.
Jika demikian halnya, maka nasib Anda sebenernya tidak jauh beda dengan nasib saya. Cuma sedikit perbedaannya yaitu, bagi saya : itu nasib saya dulu, sementara bagi Anda: yah… itu nasib anda sekarang (lagi : kaciaannn deh elo… hi.. hi..hi.. ketawa jahil).

   

Ok, sekarang saya serius. Kalau Ada yang bertanya: apa sih yang bisa dibanggakan for being Indonesian?
Maka jawaban saya adalah :
Kita harus bangga karena kita orang Indonesia Bisa dan Biasa hidup susah!!!
   
Becanda lagi nih?
    Nggak, saya Serius!! Saya nggak boong. Kalau saya boong biarkan Tuhan memberikan cobaan yang berat pada saya (red : kata pak ustadz harta yang berlimpah merupakan cobaan yang berat)

   

Kemampuan untuk hidup susah (saya sebut aja "survival ability" ya) tidak dimiliki orang-orang yang lama hidup di negara-negara mapan.
    Boss saya (orang India) pernah cerita: suatu ketika teman-nya-sebut saja Sarukh- dan keluarganya pamit pada boss saya pulang ke negara asalnya,India yang murah meriah untuk menikmati pensiun dini, setelah 15 tahun kerja di Singapore . Eee… belum satu tahun pamitan, pulang ke India, si Sarukh sudah balik lagi ke Singapore, dan kali ini minta bantuan Boss saya untuk dicariin kerjaan lagi di Singapore.

   

What happened? Tanya boss saya. Sarukh bercerita, setelah pulang ke India, anak remajanya yang dibesarkan di Singapore menjadi rada-rada stress dan menjadi pasien tetap psikiater di sana. Selidik-punya selidik agaknya hal itu disebabkan karena anaknya Sarukh tidak bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan dari kondisi yang sangat mapan (Singapore) ke kondisi yang sebaliknya (India).
   
Jadi, dalam hal ini, anak si Sarukh yang sudah biasa hidup dalam kemapanan tidak punya "kemampuan bertahan waras" untuk hidup di negara yang belum mapan. Demi kebaikan anaknya, akhirnya si Sarukh memutuskan menunda pensiun dini-nya dan kembali kerja di Singapore.

   

Kalau kita-kita yang sudah biasa hidup susah di Jakarta, pindah or berkunjung ke India sih nggak ada masalah.
Saya jadi ingat, 2 tahun lalu ketika saya dan rekan-rekan kerja saya berkunjung ke India, boss saya wanti-wanti untuk : bawa obat sakit perut, dan selama di India hanya minum-minuman dari botol/kaleng. Kalau ke restoran lokal jangan sekali-kali minum air putih yang disediakan dari dari teko/ceret di restoran tersbut, karena kebersihan airnya tidak terjamin, dan biasanya perut orang asing tidak siap untuk itu; begitu nasehat boss saya.
   

Pada waktu itu satu rombongan yang berangkat ke India terdiri dari 5 orang. Satu orang Jepang –dari Jepang, dua orang Singapore dan dua orang Indonesia (termasuk saya baru sebulan kerja di Singapore).
    Dalam 2 minggu kunjungan ke India, kolega dari Singapore dan Jepang langsung menderita diare di Minggu pertama ke India.
Diselidiki, kemungkinan penyebabnyat adalah mereka pernah memesan kopi atau teh di restoran lokal pada saat makan siang (yang tentunya tidak dari botol). Sementara si orang Jepang, walaupun secara ketat dia hanya minum-minuman botol atau kaleng selama makan di restoran-restoran lokal, terkena diare, diduga karena si orang jepang ini menggunakan air keran dari hotel untuk berkumur-kumur selama sikat gigi.
Sedangkan saya dan satu orang rekan lagi dari Indonesia, sehat walafiat tidak menderita suatu apapun selama di sana (mungkin karena di Indoneisa, sudah terbiasa jajan es dipinggir jalan yang airnya tidak lebih bersih dari air di restoran-restoran India).

   
What is the moral of the story?
    Kita harus bangga karena Kita bisa lebih baik dari orang Jepang dan Singapore!!! ! (at least, dalam hal ketahanan perut).

   

Cerita lainnya lagi, bulan lalu saya di kirim kantor (yang base-nya di Singapore) untuk mengikuti sebuah workshop di Rio de Janeiro Brazil. Total waktu trempuh saya dari Singapore ke hotel saya di Rio de Janeiro Brazil adalah 36 jam (termasuk 5 jam transit di Eropa).
Sebenarnya, dari Singapore ke Brazil, jalur yang paling umum dan cepat adalah ke arah Timur, transit di Amerika, terus ke Brazil. Dengan jalur ini saya perkirakan, dalam 26-30 jam saya sudah bisa mencapai Brazil. Cuma, karena saya orang Indonesia, untuk transit di Amerika pun saya butuh apply VISA Amerika, yang mana proses aplikasi visa tersebut memerlukan waktu sedikitnya 2 minggu. Padahal, saya tidak punya waktu sebanyak itu.
Alhasil, yah begitulah, saya harus memilih rute yang sebaliknya, mengeliling belahan bumi bagian barat, transit di Amsterdam, dengan waktu tempuhnya 6- 10 jam lebih lama.
Jadinya, cukup melelahkan, tapi nggak apa-apa, namanya juga orang Indonesia, harus terbiasa dengan hal-hal yang susah-susah.
   
Saya sampai di hotel di Rio, hari minggu jam 11 Malam. Dan keesokan paginya saya langsung mengikuti workshop di sana. Walaupun masih terasa lelah, saya tetap berusaha untuk terlibat aktif dalam workshop pagi itu, dengan mengajukan pertanyaan atau memberi masukan atas pertanyaan peserta lainnya. Pada saat istirahat, saya sempat berbincang-bincang dengan kolega-kolega dari Jerman peserta workshop itu. Beberapa dari mereka mengeluh kecapaian dan menderita "jet lag", karena mereka telah menempuh 12 jam perjalanan dari Jerman, dan baru saja tiba di Brazil hari minggu siang, sehingga belum cukup waktu istirahat untuk adaptasi Jet lag, begitu keluh mereka. Lalu, saya berkata pada mereka, bahwa sebenarnya mereka lebih beruntung dari saya, karena saya harus menempuh 36 jam perjalanan dari Singapore, dan baru tiba di hotel pukul sebelas malem, kurang dari 12 jam sebelum workshop dimulai.
Mereka tertegun, salah seorang dari mereka bertanya pada saya:

    "Tapi kamu naik pesawat, di kelas Bisnis khan?"
    "Tidak, jatah saya Cuma kelas ekonomi", jawab saya lagi.
    Mereka terlihat semakin terkagum-kagum (atau kasihan?), dan salah seorang dari mereka memuji.
    "Its very impressive, you guys Singaporean are really-really hard workers"
    "I’m not Singaporean, I’m Indonesian working in Singapore" jawab saya dengan bangga.

   

Agaknya, hari itu saya menjadi cukup terkenal di kalangan kolega dari Jerman, hanya karena terbang selama 36 jam dari Singapore, baru tiba kurang dari 12 jam sebelumnya dan masih bisa secara aktif mengikuti workshop tersebut. Saya tahu kalau saya menjadi pembicaraan mereka , karena sewaktu makan malam, kolega dari jerman lainnya - yang saya tidak pernah ceritakan mengenai perjalanan saya dari Singapore – bertanya pada saya tips and trick supaya bisa tetap segar setelah menempuh perjalanan begitu lama (ini berarti dia mendapatkan cerita saya dari kolega jerman lainnya).
Saya bingung jawabnya. Ingin sekali saya menjawab :

    "Berlatihlah dengan naik kereta api super ekonomi dari Jakarta ke Surabaya di saat-saat mendekati hari lebaran. Kalau Anda terbiasa dengan alat transportasi ini- di mana tidak hanya species "Homo Sapiens" yang bisa menjadi penumpangnya , dan di tambah lagi waktu tempuhnya yang lama sekali karena hampir di setiap setasion harus berhenti, maka Anda akan bisa menaklukkan semua alat transportasi terbang apapun yang ada di muka bumi ini".
    Namun, saya urungkan memberi jawaban di atas, karena saya khawatir dia tidak akan mengerti atas apa yang saya jelaskan, dan saya yakin mereka tidak bisa "survive" dengan alat transportasi ini, yang fasilitasnya tentu jauh dari kelas bisnis pesawat terbang (Note : kolega saya dari jerman, otomatis mendapat fasilitas kelas bisnis di pesawat apabila waktu tempuhnya lebih dari 10 jam).

   

Seminggu, setelah saya pulang dari Workshop di Brazil, ntah karena terkagum-kagum dengan "kemampuan hidup susah" (dari sudut pandang mereka) yang saya miliki, atau karena alasan lainnya, kolega saya dari Jerman yang saya temui di Brazil, menghubungi atasan saya yang intinya meminta saya untuk ditugaskan ke Jerman, membantu project yang saat ini sedang berjalan di sana. Alhasil, bulan September – November saya akan bergabung dengan kolega-kolega di Jerman menyelesaikan project di sana.
    Cukup membanggakan, karena, kata boss saya, ini kali pertama "Kantor Pusat" meminta bantuan dari kantor cabang untuk mensupport project yang sedang mereka kerjakan di kantor pusat.

   

Jadi, setelah membaca tulisan ini, saya harap pembaca sekalian punya alasan semakin bangga menjadi orang Indonesia.
Kalau anda lagi di luar negeri dan ditanya "Anda dari mana?"
Jawablah dengan bangga:
   
Ya, Saya dari Indonesia,
   
Negara yang lagi susah,
   
Saya juga hidupnya susah
   
Tapi saya bisa "survive",
   
Dan saya bangga karenanya!!!
Any Problem???

   

Mahendra Hariyanto (Alumnus S1 TI STT Telkom angkatan ‘93)
Singapore, 24 Agustus 2006.
   
Selamat merayakan HUT kemerdekaan. MERDEKA!!!